Beranda Beksi NEWS Sekjen LPK Kabupaten Bekasi Ceritakan Bekasi Era Dulu Sampe Wayah Gini.

Sekjen LPK Kabupaten Bekasi Ceritakan Bekasi Era Dulu Sampe Wayah Gini.

Beksiindonesianews.com, Kabupaten Bekasi- mengingat pelantikan Eka Supria Atmaja menjadi bupati definitif. Sekjen Lembaga Pemberantas Korupsi (LPK) Yusup Ibnu Sanusi mengatakan kepala daerah mestinya mampu membenahi bekasi era terkini dan mendatang.

Tentunya, kata dia kepala daerah perlu membutuhkan paduan antara terpeliharanya tradisi dan budaya yang harus lestari dengan keterbukaan terhadap modernisasi dan globalisasi.

“Masyarakat Industri Global sangat tepat dan pas untuk dilekatkan pada masyarakat dan warga bekasi terkini bisa dibedakan secara adminitrasi pemerintah Kabupaten Bekasi dengan Kota Bekasi,” ungkapnya

Menurutnya bekasi bukan didiami dari warga lokal saja namun sunda, betawi atau banten tetapi semua suku nusantara yang terdiri dari Suku Jawa, Batak, Melayu, Timur, Bali dan yang lainnya.

“Bahkan sudah ada sejak 30 tahun lalu tetapi sangat disayangkan kini area pertanian, perkebunan berubah drastis menjadi kawasan industri, perumahan dan area pabrik bahkan kota baru yang membentang hutan beton dan pencakar langit,”

Semua terlindas oleh keserakahan yang tak manusiawi dan tak ramah lingkungan. Roda perekonomian berjalan 24 jam tanpa henti mobilitas dan transformasi ekonomi berjalan cepat bahkan sangat cepat dan melesat.

“Ada yang datang, ada juga yang hilang masalah sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, kebudayaan dan kemanusiaan makin kusut, amburadul dan kompleks,” katanya

Potret kesenjangan sosial ekonomi sangat tajam. Kesenjangan dan sehingga angka bunuh diri meningkat, muncul rasa frustasi, hopeless, distrust (ketidak percayaan) akibat perekonomian.

“Apakah warga pribumi, yang terlahir dan tumbuh di Bekasi merasa makmur, bahagia dan berdaya ? Siapa yang menjadi penikmat atas kemajuan industri ? Siapa jadi penonton, siapa jadi korban ? Apakah, para warga pribumi sudah menjadi tuan dan pemilik di rumah sendiri,” imbuhnya.

Pemain utama ekonomi dan industri bukanlah warga Bekasi, bukan pula warga asli WNI. Bekasi sudah menjadi kawasan warga global (Global Society). Reformasi dan demokrasi langsung Pemilu Kepala Daerah di Bekasi patut jadi renungan.

“Sejak Pilkada 2007 : Bupati-Wabup : Sa’duddin-Darip Mulyana, dilanjutkan 2012 : Bupati-Wabup : Neneng Hasanah Yasin-Rohim Mintaredja, dan 2017 : Bupati-Wabup : Neneng Hasanah Yasin – Eka Supri Atmaja, diwarnai tragedi prahara kasus Megakorupsi yang menghebohkan,” ucapnya.

Mengapa hingga sekarang, kita belum mendengar adanya reputasi dan prestise, keunggulan Kepala Daerah Bekasi menjadi role model, dan berdaya saing seperti kepala daerah lainnya.

“Jokowi sangat harum dari Walikota Solo, Ridwan Kamil dari Kota Bandung, Risma di Surabaya. So, apa yang menjadi kebanggaan, rasa takdzim dan kemuliaan atau penghargaan kita atau pihak lain atas prestasi dan keunggulan Kepala Daerah yang kita pilih dan kita dukung,” tandasnya (bis).